Hadits tentang Ulama’

Image

  1. PENDAHULUAN

Waktu senantiasa mengikuti perjalanan umat manusia. Termasuk di dalamnya adalah umat Islam, yang kini telah sampai pada perjalanan yang demikian panjang.Hari demi hari, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, jarak antara mereka dengan zaman risalah semakin jauh. Jarak antara mereka dengan zaman keemasan umat ini telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Sungguh, melihat keadaan umat ini sekarang, benar-benar membuat hati pilu dan dada sesak.

Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengobrak-abrik kekuatan dan keyakinan kaum muslimin. Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan mereka. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam keterlenaan, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak, gugur dalam amukan kesesatan tersebut. Para guru dengan merasa aman menggandeng tangan murid-muridnya menuju kegagalan hidup. Sementara orang tua dengan bangga melihat anaknya berjalan di tepi jurang menuju kehancuran dan kebinasaan.[1]

       I.  RUMUSAN MASALAH

  1. Pengertian Ulama’
  2. Dua macam Ulama’ dalam Islam
  3. Fungsi, peran serta tanggung jawab Ulama’

    II.  PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ulama’

Ulama adalah jamak dari kata ‘alimu. Yang berarti seseorang yang memiliki ilmu yang mendalam, luas dan mantap. Ulama adalah seseorang yang memiliki kepribadian, dan akhlak yang dapat menjaga hubungan dekatnya dengan Allah dan memiliki benteng kekuatan untuk menghalau dan meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya.[2] Tentang rumusan ulama dengan sifat-sifatnya, yaitu bahwa ulama adalah hamba Allah yang berakhlak Qur’ani yang menjadi “waratsatul anbiya” (pewaris para nai), “qaudah” (pemimpin dan panutan), khalifah, pengemban amanah Allah, penerang bumi, pemelihara kemaslahatan dan kelestarian hidup manusia.Para ulama semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 الْعُلُمَاءُ  وَرَثَةُاْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.”

(HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rahmat dan pertolongan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi muslimin.[3]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu.Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan barakah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Kita telah mengetahui bagaimana kedudukan mereka dalam kehidupan kaum muslimin dan dalam perjalanan kaum muslimin menuju Rabb mereka.Semua ini disebabkan mereka sebagai satu-satunya pewaris para nabi sedangkan para nabi tidak mewariskan sesuatu melainkan ilmu.

Kedudukan Ulama

Kedudukan ulama dalam agama berikut di hadapan umat, merupakan permasalahan yang menjadi bagian dari agama. Mereka adalah orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabbnya, agama dan Rasulullah saw.. Mereka adalah sederetan orang yang akan menuntun umat kepada cinta dan ridha Allah, menuju jalan yang dirahmati yaitu jalan yang lurus. Oleh karena itu ketika seseorang melepaskan diri dari mereka berarti dia telah melepaskan dan memutuskan tali yang kokoh dengan Rabbnya, agama dan Rasul-Nya. Ini semua merupakan malapetaka yang dahsyat yang akan menimpa individu ataupun sekelompok orang Islam. Berarti siapapun atau kelompok manapun yang mengenyampingkan ulama pasti akan tersesat jalannya dan akan binasa.

Allah SWT mengangkat mereka dengan ilmu, menghiasi mereka dengan sikap kelemahlembutan. Dengan keberadaan mereka, diketahui yang halal dan haram, yang hak dan yang batil, yang mendatangkan mudharat dari yang mendatangkan manfaat, yang baik dan yang jelek. Keutamaan mereka besar dan kedudukan mereka mulia.

Pembahasan diatas sudah jelas bagaimana kedudukan ulama dalam agama dan butuhnya umat kepada ulama’ serta betapa besar bahayanya meninggalkan mereka.

B.     Dua Macam Ulama’ dalam Islam

Seiring dunia semakin canggih dan banyak perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini,  maka Ulama-ulama pun  ada yang ‘Ulama jadi-jadian.

Di dalam Islam, ada 2 macam ‘Ulama :

  1. Ulama Pewaris Nabi

Ulama’ pewaris para Nabi, tanda-tandanya diantaranya:

a)      Ulama’ berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah serta mengamalkannya

Ulama’ yang warasatul Anbiya’ adalah ulama’ yang ilmunya sesuai dengan apa yang dikehendaki Al-Qur’an dan Hadits. Orang yang banyak ilmunya tentang agama Islam, mengerti dan faham akan ilmu-ilmu Islam, orang tersebutlah yang pantas disebut Ulama’. Sedangkan orang yang banyak ilmu dan pengertiannya tentang agama dinamakan ahli agama dan orang yang mempraktekkan ajaran-ajaran agamanya dinamakan agamawan.

b)      Ulama’ yang berprinsip, teguh pendirian dan tidak takut Intimidasi[4]

Ulama’ yang berprinsip tidak dapat mendustai hati nuraninya untuk menghianati keyakinannya yang telah sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Apalagi diharapkan untuk menghalalkan perkara haram dan mengharamkan perkara halal.

Ulama’ yang berprinsip tidak takut mendapat ancaman dan Intimidasi dari orang yang memusuhi agama Allah. Yang ditakuti hanyalah Allah semata. Beliau hanya takut dan harapnya hanya kepada Allah swt.

c)      Ulama’ yang tidak menjual agama

d)     Ulama’ yang Hidupnya Zuhud

e)      Berani menyampaikan kebenaran meskipun pahit

f)       Tidak takut dan tidak mengharap apa-apa dari manusia

2. ‘Ulama Su’ (jelek; jahat)

Diantara hal yang sangat penting adalah mengetahui tanda-tanda yang membedakan antara ulama duniawi  dengan ulama hakiki. Yanga dimaksud ulama  dengan ulama duniawi adalah ulama su’, yaitu orang yang dengan ilmunya berusaha memperoleh kenikmatan duniawi, dan menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mendapatkan kedudukan terhormat dimata manusia.Banyak keterangan yang menjelaskan bahwa ulama su’ itu adalah makhluk yang paling sedih siksanya dihari kiamat kelak.Rasulullah telah mensinyalir adanya Ulama’ yang jelek atau Ulama’ yang jahat itu dengan sabdanya:

Artinya: “Celakalah bagi umatku, akibat daripada perbuatan ulama’ Su’. (HR al-Hakim dari Anas r.a)[5]

Diantara ciri-cirinya yaitu:

  • Ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya berbisa dan menyebarkan fitnah
  • Hidupnya condong kepada kemewahan
  • Selalu mendekati penguasa dan orang kaya untuk mendapatkan dunia
  • Menjual ayat-ayat Allah untuk kepentingan dunianya
  • Bila mengeluarkan fatwa motivasinya bukan untuk kebijakan melainkan demi mencari ridha penguasa dan konglemerat, meskipun hal tersebut menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

C. Fungsi, peran serta tanggungjawab Ulama’[6]

    1. Sebagai penyiar agama Islam. Dengan fungsi ini, ulama berkewajiban menyampaikan amar ma’ruf dan nahy munkar kepada segenap umat manusia. Ilmu agama yang dimilikinya, wajib diajarkan kepada isteri, anak, dan seluruh masyarakat Islam;
    2. Sebagai pemimpin rohani. Dengan fungsi ini, ulama wajib memimpin dan membimbing umat Islam dalam bidang rohani, misalnya dalam bidang akidah, syariah, dan akhlak;
    3. Sebagai pengemban amanat Tuhan. Dengan fungsi ini, ulama wajib memelihara amanat Tuhan. Dalam arti bahwa ulama bertanggung jawab memelihara agama dari kerusakannya, menjaga agama agar tidak dikotori oleh manusia, serta menunaikan segala perintah Tuhan;
    4. Sebagai penegak kebenaran. Dengan fungsi ini, ulama yang lebih mengetahui ajaran Islam, seharusnya menjadi pelopor dalam menegakkan kebenaran.

 III.            KESIMPULAN

Ulama’ adalah jama’ dari kata ‘alim yang artinya orang yang memiliki ilmu yang mendalam dan luas. Ulama’ lebih utama daripada ‘abid atau ahli ibadah. Kenapa?, karena ulama’ mereka senantiasa mengingatkan orang-orang yang lalai, mengajarkan orang-orang yang jahil. Dengan kebagusan adab mereka, orang-orang yang bermaksiat terdorong untuk menjadi orang yang taat. Namun, disamping ulama’ yang sholeh juga ada ulama’ yang su’ atau jelek. Ulama’ tersebut tidak pantas dijadikan pewaris para Nabi, karena memang tingkah laku mereka tidak mencerminkan sifat Nabi. Dan bahkan membawa kesesatan bagi umat manusia. Hal ini jelas tidak sesuai dengan fungsi dan tanggungjawab Ulama’.


[3]Hamzah Muhammad Shalih Ajaj, Menyingkap Tirai 55 Wasiat Rasulullah, (Jakarta: PT. Pustaka Panji Mas, 1993), h. 17-23.

[4]Umar Hasyim, Mencari Ulama’ Pewaris Para Nabi,(Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983), h. 74-76.

[5]  Umar Hasyim, Mencari Ulama’ Pewaris Para Nabi, h. 31-32.

[6]Umar Hasyim,Mencari Ulama’ Pewaris Para Nabi, h. 134.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s