TAFSIR AL-QUR’AN TENTANG AKAL

TAFSIR AL-QUR’AN TENTANG AKAL

 

MAKALAH

                                  Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Tafsir Falsafi

Dosen Pengampu : Dr. H. In’amuzzahidin, M. Ag.

 

 
   

 

 

 

 

                                                                                                                                                         

 

 

 

 

Disusun Oleh :

                                      Ainul Maftuchah                   (104111041)

 

FAKULTAS USHULUDDIN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

  1. I.                   PENDAHULUAN

Akal, sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa manusia merupakan makhluk yang mempunyai akal. Oleh karena itu manusia dituntut untuk berfikir dalam menjalani kehidupan. Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah.

Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama. Tema akal adalah salah satu tema keislaman yang sentral. Karena akal seringkali disebut-sebut oleh Al-Quran sebagai sesuatu yang sangat penting. Atas dasar itu, kita mesti mencari tahu makna akal dalam berbagai rentangannya yang tidak terbatas. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an memang menjelaskan tentang akal, oleh karena itu kita perlu mengkaji apa yang telah dijelaskan Al-Qur’an.

  1. II.                RUMUSAN MASALAH

1)      Pengertian Akal

2)      Kedudukan Akal dalam Al-Qur’an

 

  1. III.             PEMBAHASAN
  2. A.    Pengertian Akal

Kata akal yang sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata arab al-Aql dalam bentuk kata benda yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya yaitu ‘Aqaluh dalam satu ayat, ta’qilun 24 ayat, na’qil 1 ayat, ya’qiluha 1 ayat dan ya’qilun 22 ayat. Kata-kata tersebut berarti faham atau mengerti. Seperti dalam surat Al-Baqarah: 75

* tbqãèyJôÜtGsùr& br& (#qãZÏB÷sムöNä3s9 ô‰s%ur tb%x. ×,ƒÌsù öNßg÷YÏiB tbqãèyJó¡o„ zN»n=Ÿ2 «!$# ¢OèO ¼çmtRqèùÌhptä† .`ÏB ω÷èt/ $tB çnqè=s)tã öNèdur šcqßJn=ôètƒ ÇÐÎÈ

 Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui,

Dalam pemahaman Profesor Izutsu, kata ‘aql di zaman jahiliyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem solving capacity). Orang berakal menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah setiap kali dihadapkan dengan problema apapun.

Kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Tetapi timbul pertanyaan apakah pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui akal yang berpusat dikepala? Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 46 dijelaskan bahwa pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui kalbu yang berpusat didada[1].

Dalam buku Tafsir fi Dzilalil Qur’an juga dijelaskan bahwa Kata ‘aql (akal) tidak ditemukan dalam al-qur’an, yang ada adalah bentuk kata kerja-masa kini, dan lampau. Kata tersebut dari segi bahasa  pada mulanya berarti tali pengikat, penghalang. Al-Qur’an tidak menjelaskannya secara eksplisit, namun dari konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata ‘aql dapat dipahami antara lain:

a)      Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firman-Nya dalam QS Al-‘Ankabut (29): 43.

šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $ygç/ΎôØnS Ĩ$¨Z=Ï9 ( $tBur !$ygè=É)÷ètƒ žwÎ) tbqßJÎ=»yèø9$# ÇÍÌÈ

Dan perumpamaan-perumpamaan Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Daya manusia dalam hal ini berbeda-beda. Ini diisyaratkan Al-Qur’an antara lain dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit-bumi, silih bergantinya malam dan siang , dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai bukti-bukti keesaan Allah Swt. bagi “orang-orang berakal” (QS Al-Baqarah (2): 164), dan ada juga bagi Ulil Albab yang juga bermakna sama, tetapi mengandung pengertian lebih tajam dari sekedar memiliki pengetahuan.

Keanekaragaman akal dalam konteks menarik makna dan menyimpulkannya terlihat juga dari penggunaan istilah-istilah semacam nazhara, tafakkur, tadabbur, dan sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan kemampuan pemahaman.

 

b)      Dorongan moral, seperti dalam firman-Nya QS. Al-‘Anam(6): 151.

* ö@è% (#öqs9$yès? ã@ø?r& $tB tP§ym öNà6š/u‘ öNà6øŠn=tæ ( žwr& (#qä.Ύô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«ø‹x© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) ( Ÿwur (#þqè=çFø)s? Nà2y‰»s9÷rr& ïÆÏiB 9,»n=øBÎ) ( ß`ós¯R öNà6è%ã—ötR öNèd$­ƒÎ)ur ( Ÿwur (#qç/tø)s? |·Ïmºuqxÿø9$# $tB tygsß $yg÷YÏB $tBur šÆsÜt/ ( Ÿwur (#qè=çGø)s? š[øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ö/ä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ ÷/ä3ª=yès9 tbqè=É)÷ès? ÇÊÎÊÈ

 

c)      Daya untuk mengambil kesimpulan dan pelajaran serta “hikmah”[2]

Untuk maksud ini biasanya digunakan kata Rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya diatas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis, dan menyimpulkan, sera dorongan moral yang disertai dengan kematangan berfikir. Seseorang yang memiliki dorongan moral boleh jadi tidak memiliki daya nalar yang kuat dan boleh jadi juga seseorang yang memiliki daya pikir yang kuat, tidak memiliki dorongan moral, tetapi seseorang yang memiliki rusyd, maka dia telah menggabungkan kedua keistimewaan tersebut. Dari sini dapat mengerti mengapa penghuni neraka dihari kemudian berkata dalam QS Al-Mulk(67): 10. Yang artinya: Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.

 

  1. B.     Kedudukan Akal dalam Al-Qur’an

Telah dijelaskan bahwa penghargaan tertinggi terhadap akal terdapat dalam Al-Qur’an. Tidak sedikit ayat-ayat yang menganjurkan dan mendorong manusia supaya banyak berpikir dan mempergunakan akalnya.

Kata-kata yang dipakai dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan perbuatan berpikir, bukan hanya ‘aqala tapi juga ada banyak sinonimnya seperti berikut:

  1. Nazara, merenungkan dan perhatikan, terdapat dalam 30 ayat lebih, antara lain:

óOn=sùr&(#ÿrãÝàZtƒ ’n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# ôMßgs%öqsù y#ø‹x. $yg»oYø‹t^t/ $yg»¨Y­ƒy—ur $tBur $olm; `ÏB 8lrãèù ÇÏÈ uÚö‘F{$#ur $yg»tR÷Šy‰tB $uZøŠs)ø9r&ur $pkŽÏù zÓśºuru‘ $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. £l÷ry— 8kŠÎgt/ ÇÐÈ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?. Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata”. (QS. Qaaf: 6-7)

̍ÝàYu‹ù=sù ß`»|¡RM}$# §NÏB t,Î=äz ÇÎÈ t,Î=äz `ÏB &ä!$¨B 9,Ïù#yŠ ÇÏÈ ßlãøƒs† .`ÏB Èû÷üt/ É=ù=Á9$# É=ͬ!#uŽ©I9$#ur ÇÐÈ

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. (QS. At-Thariq: 5-7)

  1. Tadabbara, merenungkan terdapat beberapa ayat seperti:

ë=»tGÏ. çm»oYø9t“Rr& y7ø‹s9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£‰u‹Ïj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.x‹tFuŠÏ9ur (#qä9’ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shaad: 29)

  1. Tafakkara, berfikir terkandung dalam 16 ayat, seperti:

* ª!$# “Ï%©!$# t¤‚y™ â/ä3s9 tóst7ø9$# y“̍ôftGÏ9 à7ù=àÿø9$# Ïm‹Ïù ¾Ín̍øBr’Î/ (#qäótGö;tGÏ9ur `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù ö/ä3¯=yès9ur tbrãä3ô±s? ÇÊËÈ t¤‚y™ur /ä3s9 $¨B ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$# $Yè‹ÏHsd çm÷ZÏiB 4 ¨bÎ) ’Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÊÌÈ

Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. An-Nahl: 68-69)

  1. Faqiha, mengerti, faham terdapat dalam 16 ayat, seperti:

ßxÎm6|¡è@ ã&s! ßNºuq»uK¡¡9$# ßìö7¡¡9$# ÞÚö‘F{$#ur `tBur £`ÍkŽÏù 4 bÎ)ur `ÏiB >äóÓx« žwÎ) ßxÎm7|¡ç„ ¾Ínω÷Kpt¿2 `Å3»s9ur žw tbqßgs)øÿs? öNßgys‹Î6ó¡n@ 3 ¼çm¯RÎ) tb%x. $¸JŠÎ=ym #Y‘qàÿxî ÇÍÍÈ

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Isra’: 44)

  1. Tadzakkra, mengingat, memperoleh, peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan dan mempelajari, terdapat lebih dari 40 ayat, seperti:

`yJsùr& ß,è=øƒs† `yJx. žw ß,è=øƒs† 3 Ÿxsùr& šcr㍞2x‹s? ÇÊÐÈ

Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (QS.An-Nahl: 17)

Selain itu terdapat pula dalam Al-Qur’an sebutan-sebutan yang memberi sifat berfikir bagi seorang muslim, yaitu ulul albab(orang berfikir), ulul ‘ilm(orang berilmu), ulil abshar(orang yang mempunyai pandangan), dan ulin nuha(orang bijaksana)[3].

Semua bentuk ayat-ayat yang didalamnya terdapat kata-kata Nadzara, Tadabbara, Tafakkaru, Faqiha, Fahima, ‘aqala, serta ayat yang berisi sebutan ulul albab, ulul ‘ilm, ulil abshar, mengandung anjuran, dorongan dan perintah agar manusia banyak berfikir dan mempergunakan akalnya. Keduanya ini adalah ajaran yang jelas dan tegas dalam Al-Qur’an, sebagai sumber utama ajaran Islam.

Hadits sebagai sumber kedua dari ajaran Islam, juga member kedudukan tertinggi pada akal. Salah satu haditsnya sebagai berikut: 

ا لد ين عقل لا د ين لمن لا عقل له

“Agama adalah penggunaanakal, tiada agama bagi orang yang tak berakal”.

Akal terdiri atas unsur rasio dan hati/rasa. Setelah manusia memikirkan/meraiso tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentang di alam atau tertulis dalam kitabNya maka tidak akan mengakui adanya Allah kalau hatinya tidak berfungsi, sebab buta, tidak yakin dan kotor[4].

Yang masuk akal belum tentu dapat dirasionalkan, sebab berfungsinya kemampuan rasio manusia sangat terbatas, hatinya buta dan menyebabkannya tidak yakin. Banyaknya manusia  yang tidak mau memahami tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah, mereka tidak mau menggunakan hati dan rasionya. Tapi ada juga yang mau menggunakan raiso namun mereka tidak yakin karena hatinya buta. Mereka bahkan lebih sesat daripada binatang yang tidak mempunyai akal[5].

 

  1. IV.             KESIMPULAN

Akal merupakan makhluk Tuhan yang tertinggi dan akallah yang memperbedakan manusia dari binatang dan makhluk Tuhan yang lainnya. Karena akallah manusia bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya dan akal yang ada dalam diri manusia itulah yang dipakai Tuhan sebagai pegangan dalam menentukan pemberian pahala atau hukuman kepada seseorang. Begitulah tingginya kedudukan akal dalam ajaran Islam, bukan hanya tinggi dalan soal-soal keduniaansaja tapi juga dalam soal keagamaan.

Penghargaan tertinggi terhadap akal ini sejalan pula dengan ajaran Islam lain yang erat hubungannya dengan akal, yaitu menuntut ilmu. Sesuai juga dengan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi saw.

 

DAFTAR PUSTAKA

Harun Nasution, akal dan wahyu dalam Islam, Jakarta: UI Press, 1986

Choiruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an Jilid I, Jakarta: Gema Insani, 2005

Sayyid Quthb, Tafsir fi Dzilalil Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2001


[1] Harun Nasution, akal dan wahyu dalam Islam, (Jakarta: UI Press, 1986), h. 5-7.

[2] Sayyid Quthb, Tafsir fi Dzilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2001), h. 65.

[3]  Harun Nasution, Ibid., h.39-42.

[4]  Choiruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an Jilid I, (Jakarta: Gema Insani, 2005), h. 62.

[5]  Choiruddin Hadhiri, Ibid., h. 62-63.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s