TAFSIR tentang HIDAYAH DAN SESAT

   هدايه والأضلل

MAKALAH

 

Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Tafsir Aqidah

Dosen Pengampu: Drs. H. Muhammad Nasuha. M.Si

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

 

عبدالغني

عين المفتوحة

 

 

FAKULTAS USHULUDDIN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

HIDAYAH DAN SESAT

  1.        III.      PEMBAHASAN
    1.     Hidayah

[8] tunjukilah kami, dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

Kebutuhan hamba akan hidayah dari tuhan merupakan persoalan yang sangat mendesak, sebab manusia dengan sendirinya tidak akan tertunjuki. Manusia tidak dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, antara yang lurus dan yang sesat, selama mereka tidak mendapat petunjuk Tuhan tentang jalan yang lurus itu. Yang memberi hidayah hanyalah Allah, tidak seorang pun mendapat petunjuk jika Allah tidak berkenan memberinya petujuk. Allah memberikan petunjuk (hidayah) sebagai wujud rahmat dan kemurahannya. Oleh Sebab itu, menjadi kewajiban setiap hamba Allah untuk memanjatkan doa ini disetiap rakaat dalam salat, agar persoalan hidayah ini manjadi hidup dalam sanubari, mengalir dalam urat nadi, dan selalu tampak dalam pandangan mata. Dengan demikian akan menimbulkan kesadaran bahwa petunjuk menuju jalan yang lurus itu merupakan nikmat paling agung yang dikaruniakan Tuhan dan penghargaan paling tinggi yang diberikan kepada manusia.

Hidayah merupakan pengetahuan tentang kebenaran (al-haq) yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw disertai kesanggupan untuk melaksanakan kebenaran itu secara total hingga akhir hayat. Juga adanya kesediaan untuk berkorban demi melaksanakan kebenaran itu. As-shirat al-mustaqim (jalan yang lurus) adalah jalan terang dan nyata yang mengantarkan manusia menuju ridha Allah, pengampunan, dan surganya. Dia adalah jalan yang telah diberikan penjelasan oleh Allah dan rasulnya, disaksikan kelurusannya oleh kitab-kitab suci, disepakati oleh fitrah, dan merupakan jalan yang telah dilalui oleh orang-orang terdekat dengan tuhan (auliya).   

Al-shirat al-mustaqim itu terdiri dari hidayah dalam sifat yang umum dan hidayah dlam wujud terperinci. Hidayah yang bersifat umum adalah petunjuk yang diberikan Allah kepada setiap insane yang meniti jalan lurus ini demi mengharap keselamatan dari murka Allah dan kemenangan atas ridhanya.

Betapa banyak orang yang menjadi korban kejahatan setan dan sembuh berkat al-fatihah; berapa banyak orang yang terkena anak panah hawa nafsu dan pulih oleh al-fatihah! Ya Allah tuhan kami, tunjukilah kami jalan lurus sehingga kami menuju keharibaanmu, untuk bersua denganmu sedang engkau ridha pada kami, berbaik hati kepada kami, dan berlemah lembut kepada kami karena engkau dengan kehendakmu member petunjuk manusia ke jalan yang lurus.[1]

Hidayah Allah yang diberikan kepada manusia bermacam-macam. Pertama, hidayah al-ilham, yaitu hidayah yang diberikan kepada bayi sejak kelahirannya, seperti perasaan butuh terhadap makanan dan ia menangis karena mengharapkan makanan tersebut.

Kedua hidayah al-hawas. Hidayah ini dan hidayah yang pertama kedua-duanya diberikan kepada manusia dan binatang, bahkan kedua hidayah tersebut lebih sempurna pada binatang dibandingkan pada manusia, karena hidayah ilham dan hidayah hawas pada manusia pertumbuhannya amat lambat, dan betahap dibandingkan pada binatang, yang ketika lahir sudah dapat bergerak, makan, berjalan dan sebagainya.

Ketiga, hidayah al-aql yaitu hidayah yang kedudukannya lebih tinggi daripada hidayah yang pertama dan kedua. Hidayah ini hanya untuk manusia, karena manusia diciptakan untuk hidup bersama dengan yang lainnya, sedangkan ilham dan hawasnya tidak cukup untuk mencapai kehidupan bersama itu. Untuk mencapai kehidupan bersama dengan orang lain harus disertai aqal yang dapat memperbaiki kesalahan yang diperbuat pancaindra.

Keempat, hidayah al-adyan wa al-syara’ yaitu hidayah yang ditujukan kepada manusia yang cenderung mengikuti hawa nafsunya, membiarkan dirinya terpedaya oleh kelezatan duniawi dan syahwat menempuh jalan keburukan dan dosa, saling bermusuhan antara sesamanya, saling mengalahkan antara satu dan lainnya yang kesemuanya itu terjadi karena aqalnya dikalahkan oleh hawa nafsu.[2]

tunjukilah kami jalan yang lurus” (al-fatichah.6),

Terkandung beberapa persoalan dari lafaz “tunjukkan kami” terdapat enam persoalan sebagaimana berikut ini:

 

  1. 1.      Hidayah umum dan khusus

Allah swt memberi hidayah kepada ummat manusia seluruhnya, baik kafir maupun mu’min, hingga bangsa binatang pun diberi hidayah Allah.

            Allah memberi dan mengilhami musa kefasihan. Jika saja musa menjawab, “Tuhanku adalah yang Maha Mengetahui” mungkin fir’aun akan mengatakan, “aku pun maha tahu.” Atau jika saja musa menjawab,

Tuhan kami adalah (Tuhan) yang memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (taha. 50).

  1. 2.      Hidayah dalalah dan taufiq

Hidayah dalalah dimiliki oleh rasulullah saw dan keistimewaan kita adalah bahwa kita memiliki seorang pemberi petunjuk diatas al-shirat (jalan).

Hidayah taufik hanya dimiliki yang maha esa. Seperti seorang pemuda yang terdidik dilingkungan orang-orang berilmu da bertaqwa, tetapi ketika hidup ditengah masyarakat, ia menjadi pencuri atau penjahat atau sebaliknya.

Siapakah dalam hal ini yang memberi petunjuk? Dialah Allah swt yang berfirman: seungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu ksihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakinya.

  1. 3.      Jalan mencapai hidayah 

Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah selain selain dengan syariat dan mengikuti para rasul.

Benar,  tiadalah yang diucapkannya itu (al-quran) menurut kemauan hawa nafsunya.(an-najm. 3).

  1. B.           Dhalalah

178.  Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah[583], Maka merekalah orang-orang yang merugi.(al-A’raf:178)

[583] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Dalam tafsir Al-Misbah, bahwa Allah tidak meninggikan derajat siapa yang dibicarakan. Namun keadaannya karena mereka tidak memanfaatkan petunjuk Allah hingga Allah tidak memberikan kemampuan untuk mengamalkan petunjuk tersebut.

197.  Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.(al-A’raf:197)

Hidayah ditukar dengan kesesatan

16.  Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.(al-Baqarah:16)

Seperti dijelaskan diatas bahwa petunjuk adalah hak manusia yang diberikan sejak lahir. Petunjuk kebenaran ini yang akan dijadikan modal manusia dalam menuju alam kesadaran. Namun, seperti halnya warisan, hak waris tersebut harus digapai dari sekarang. Ada beberapa orang bodoh yang menukarnya dengan kesesatan. Orang-orang bodoh ini menuruti nafsu rendahnya.[3]

Tidak ada dalih atau alasan bagi orang yang telah tersesat dari jalan Allah. Karena Allah telah mengutus para Rasul-Nya untuk menerangkan ayat-ayat-Nya tetapi mereka mengolok-olok dan tidak mau mengikutinya. Mereka justru berkata: “seandainya Allah menghendaki maka tidaklah kami mengabdi pada mereka (selain Allah).[4]

Orang yang sudah terbiasa melakukan kesesatan dan keonaranatau sudah terbiasa menentang kebenaran dan mengikuti hawa nafsu yang menyebabkan tidak patuh kepada Allah, akan sulit menerima nasehat.[5] Yang menyebabkan seseorang tersesat bukanlah Allah, melainkan seseorang itu sendiri yang meninggalkan petunjuk Allah.[6] Seperti penjelasan dalam surat al-Baqarah ayat tujuh, yaitu hati orang kafir yang telah mengeras dan terkunci oleh sebab mereka menymbunyikan kebenaran danmengingkari realitas yang ada pada diri mereka sendiri.[7]

39.  Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya[473]. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.(al-An’am:39)

[473]  disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Rasyid ridha menjelaskan ayat ini bahwa sipa saja ang hendak disesatkan oleh Allah adalah sebagaimana Allah telah menyesatkan mereka yang lebih menyukai kesesatan dari pada petunjuk dan menyesatkan orang yang tidak mau menggunakan pendegaran, penglihatan dan akal mereka unutk mengetahui dan memahami ayat-ayat Allah yang membuktikan kebenaran risalah yang disampaikan Rasul-Nya.

Dalam buku karangan A. Athaillah, Rasyid Ridha mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Allah menyesatkan manusia adalah Allah melaksanakan Sunnah-Nya pada akal pikiran, naluri dan akhlak mereka, dimana mereka menolak ajakan orang yang menurutnya berada dibawahnya dan tidak mau mengikuti orang yang masih selevel dengan dirinya meski sudah jelas pada mereka bahwa orang tersebut benar. Selain itu, orang yang sudah terbiasa bertaklid juga menolak memperhatikan ayat-ayat dan argument-argument yang menyalahkan kebiasaan mereka dan membenarkan yang sebaliknya. Dengan demikian, pengertian “Allah menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya” bukanlah Allah menciptakan kesesatan pada orang yang dikehendaki-Nya tersesat ataupun menjadikan kesesatan itu merupakan tabiatnya sehingga ia menolak kebenaran dan menerima kebathilan.[8]

Hari rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami Telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong[415] dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu[416]; mereka merobah[417] perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: “Jika diberikan Ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan Ini Maka hati-hatilah”. barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.(al-Ma’idah)

[415] Maksudnya ialah: orang Yahudi amat suka mendengar perkataan-perkataam pendeta mereka yang bohong, atau amat suka mendengar perkataan-perkataan nabi Muhammad s.a.w untuk disampaikan kepada pendeta-pendeta dan kawan-kawan mereka dengan cara yang tidak jujur.

[416]  Maksudnya: mereka amat suka mendengar perkataan-perkataan pemimpin-pemimpin mereka yang bohong yang belum pernah bertemu dengan nabi Muhammad s.a.w. Karena sangat benci kepada beliau, atau amat suka mendengarkan perkataan-perkataan nabi Muhammad s.a.w. untuk disampaikan secara tidak jujur kepada kawan-kawannya tersebut.

[417]  Maksudnya: merobah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi.

Maksud dari tafsir diatas adalah barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah karena keyakinan dan perbuatannya yang rusak, serta melakukan dosa dan maksiat. Maka tidak ada seorangpun yang dapat menunjukinya ke jalan keselamatan dan kebahagiaan.[9]

Allah menciptakan pada mereka kesesatan dari kebenaran yang meneguhkan keimanan orang-orang yang beriman, sesuai dengan kehendak dan pilihan mereka sendiri, akibat mereka cenderung kepada hawa nafsu dan mengotori diri dengan berbagai kejahatan dan maksiat.[10]

  1.         IV.      KESIMPULAN

Hidayah merupakan pengetahuan tentang kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw disertai kesanggupan untuk melaksanakan kebenaran itu secara total hingga akhir hayat. Sedangkan kesesatan merupakan pelaksanaan sunnah Allah yang diberikan pada orang yang tidak mau menggunakan petunjuk dari Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maraghi, Semarang: CV Toha Putra, 1988

Al-Qarni, Aidh Bin Abdullah, Nikmatnya Hidangan Al-Quran, Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2006.

Athailah, A., Rasyid Ridha Konsep Teologi Rasional dalam Tafsir al-Manar, Jakarta: ERLANGGA, 2006.

Hadhiri SP, Choiruddin,  klasifikasi Kandungan Al-Qur’an II, Jakarta: GEMA INSANI, 2005.

Haeri, Syekh Fadhlulah, Jiwa al-Quran Tafsir Surat al-Baqarah, Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA, 2001.

Nata, Abuddin, Tafsir Ayat-Ayat Penddikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.


[1] Aidh Bin Abdullah Al-Qarni., Nikmatnya Hidangan Al-Quran, (Jakarta, maghfirah pustaka;2006), h.167-168.

[2] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Penddikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 27-28.

[3]  Syekh Fadhlulah Haeri, Jiwa al-Quran Tafsir Surat al-Baqarah, (Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA, 2001), h. 26.

[4]  Choiruddin Hadhiri SP, klasifikasi Kandungan Al-Qur’an II, (Jakarta: GEMA INSANI, 2005), h. 87.

[5]  A. Athailah, Rasyid Ridha Konsep Teologi Rasional dalam Tafsir al-Manar, (Jakarta: ERLANGGA, 2006), h. 247.

[6]  Ibid., h. 254.

[7]  Syekh Fadhlulah Haeri, Op.Cit., h. 21-22.

[8]  A. Athaillah, Op.Cit., h. 256-257.

[9]  Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV Toha Putra, 1988), h. 189.

[10] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op.Cit., h. 265.

                               هدايه والأضلل

 

MAKALAH

 

Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Tafsir Aqidah

Dosen Pengampu: Drs. H. Muhammad Nasuha. M.Si

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

 

عبدالغني

عين المفتوحة

 

 

FAKULTAS USHULUDDIN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

HIDAYAH DAN SESAT

  1.              I.      PENDAHULUAN

Mungkin kita sering berfikir, sudah  sekali cara kita untuk menyadarkan seseorang yang kita cintai, untuk merubah sifat seseorang yang sangat disayangi. Akan tetapi, segala cara dan upaya kita, ternyata tidak mampu untuk merubahnya menjadi seseorang yang baik. Sebenarnya apa yang salah dengan upaya kita, bagaimanakah caranya agar kita dapat merubah seseorang?

  1.           II.      RUMUSAN MASALAH
    1. A.     Hidayah
    2. B.     Sesat
  2.        III.      PEMBAHASAN
    1. A.           Hidayah

[8]  tunjukilah kami, dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

Kebutuhan hamba akan hidayah dari tuhan merupakan persoalan yang sangat mendesak, sebab manusia dengan sendirinya tidak akan tertunjuki. Manusia tidak dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, antara yang lurus dan yang sesat, selama mereka tidak mendapat petunjuk Tuhan tentang jalan yang lurus itu. Yang memberi hidayah hanyalah Allah, tidak seorang pun mendapat petunjuk jika Allah tidak berkenan memberinya petujuk. Allah memberikan petunjuk (hidayah) sebagai wujud rahmat dan kemurahannya. Oleh Sebab itu, menjadi kewajiban setiap hamba Allah untuk memanjatkan doa ini disetiap rakaat dalam salat, agar persoalan hidayah ini manjadi hidup dalam sanubari, mengalir dalam urat nadi, dan selalu tampak dalam pandangan mata. Dengan demikian akan menimbulkan kesadaran bahwa petunjuk menuju jalan yang lurus itu merupakan nikmat paling agung yang dikaruniakan Tuhan dan penghargaan paling tinggi yang diberikan kepada manusia.

Hidayah merupakan pengetahuan tentang kebenaran (al-haq) yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw disertai kesanggupan untuk melaksanakan kebenaran itu secara total hingga akhir hayat. Juga adanya kesediaan untuk berkorban demi melaksanakan kebenaran itu. As-shirat al-mustaqim (jalan yang lurus) adalah jalan terang dan nyata yang mengantarkan manusia menuju ridha Allah, pengampunan, dan surganya. Dia adalah jalan yang telah diberikan penjelasan oleh Allah dan rasulnya, disaksikan kelurusannya oleh kitab-kitab suci, disepakati oleh fitrah, dan merupakan jalan yang telah dilalui oleh orang-orang terdekat dengan tuhan (auliya).   

Al-shirat al-mustaqim itu terdiri dari hidayah dalam sifat yang umum dan hidayah dlam wujud terperinci. Hidayah yang bersifat umum adalah petunjuk yang diberikan Allah kepada setiap insane yang meniti jalan lurus ini demi mengharap keselamatan dari murka Allah dan kemenangan atas ridhanya.

Betapa banyak orang yang menjadi korban kejahatan setan dan sembuh berkat al-fatihah; berapa banyak orang yang terkena anak panah hawa nafsu dan pulih oleh al-fatihah! Ya Allah tuhan kami, tunjukilah kami jalan lurus sehingga kami menuju keharibaanmu, untuk bersua denganmu sedang engkau ridha pada kami, berbaik hati kepada kami, dan berlemah lembut kepada kami karena engkau dengan kehendakmu member petunjuk manusia ke jalan yang lurus.[1]

Hidayah Allah yang diberikan kepada manusia bermacam-macam. Pertama, hidayah al-ilham, yaitu hidayah yang diberikan kepada bayi sejak kelahirannya, seperti perasaan butuh terhadap makanan dan ia menangis karena mengharapkan makanan tersebut.

Kedua hidayah al-hawas. Hidayah ini dan hidayah yang pertama kedua-duanya diberikan kepada manusia dan binatang, bahkan kedua hidayah tersebut lebih sempurna pada binatang dibandingkan pada manusia, karena hidayah ilham dan hidayah hawas pada manusia pertumbuhannya amat lambat, dan betahap dibandingkan pada binatang, yang ketika lahir sudah dapat bergerak, makan, berjalan dan sebagainya.

Ketiga, hidayah al-aql yaitu hidayah yang kedudukannya lebih tinggi daripada hidayah yang pertama dan kedua. Hidayah ini hanya untuk manusia, karena manusia diciptakan untuk hidup bersama dengan yang lainnya, sedangkan ilham dan hawasnya tidak cukup untuk mencapai kehidupan bersama itu. Untuk mencapai kehidupan bersama dengan orang lain harus disertai aqal yang dapat memperbaiki kesalahan yang diperbuat pancaindra.

Keempat, hidayah al-adyan wa al-syara’ yaitu hidayah yang ditujukan kepada manusia yang cenderung mengikuti hawa nafsunya, membiarkan dirinya terpedaya oleh kelezatan duniawi dan syahwat menempuh jalan keburukan dan dosa, saling bermusuhan antara sesamanya, saling mengalahkan antara satu dan lainnya yang kesemuanya itu terjadi karena aqalnya dikalahkan oleh hawa nafsu.[2]

Dalam firman Allah swt:

tunjukilah kami jalan yang lurus” (al-fatichah.6),

Terkandung beberapa persoalan dari lafaz “tunjukkan kami” terdapat enam persoalan sebagaimana berikut ini:

 

  1. 1.      Hidayah umum dan khusus

Allah swt memberi hidayah kepada ummat manusia seluruhnya, baik kafir maupun mu’min, hingga bangsa binatang pun diberi hidayah Allah.

            Allah memberi dan mengilhami musa kefasihan. Jika saja musa menjawab, “Tuhanku adalah yang Maha Mengetahui” mungkin fir’aun akan mengatakan, “aku pun maha tahu.” Atau jika saja musa menjawab,

Tuhan kami adalah (Tuhan) yang memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. (taha. 50).

  1. 2.      Hidayah dalalah dan taufiq

Hidayah dalalah dimiliki oleh rasulullah saw dan keistimewaan kita adalah bahwa kita memiliki seorang pemberi petunjuk diatas al-shirat (jalan).

Hidayah taufik hanya dimiliki yang maha esa. Seperti seorang pemuda yang terdidik dilingkungan orang-orang berilmu da bertaqwa, tetapi ketika hidup ditengah masyarakat, ia menjadi pencuri atau penjahat atau sebaliknya.

Siapakah dalam hal ini yang memberi petunjuk? Dialah Allah swt yang berfirman: seungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu ksihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakinya.

  1. 3.      Jalan mencapai hidayah 

Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah selain selain dengan syariat dan mengikuti para rasul.

Sebab rasulullah saw adalah yang menetapkan syariat dari Allah.

Benar,  tiadalah yang diucapkannya itu (al-quran) menurut kemauan hawa nafsunya.(an-najm. 3).

  1. B.           Dhalalah

`tB ωöku‰ ª!$# uqßgsù “ωtGôgßJø9$# ( `tBur ö@Î=ôÒãƒy7Í´¯»s9résù ãNèd tbrçŽÅ£»sƒø:$# ÇÊÐÑÈ

178.  Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah[583], Maka merekalah orang-orang yang merugi.

[583] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Dalam tafsir Al-Misbah, bahwa Allah tidak meninggikan derajat siapa yang dibicarakan. Namun keadaannya karena mereka tidak memanfaatkan petunjuk Allah hingga Allah tidak memberikan kemampuan untuk mengamalkan petunjuk tersebut.


197.  Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.

Hidayah ditukar dengan kesesatan

y7Í´¯»s9ré& tûïÏ%©!$# (#ãruŽtIô©$#ss#»n=žÒ9$#3“y‰ßgø9$$Î/ $yJsù Mpt¿2u‘ öNßgè?t»pgÏkB $tBur (#qçR%x. šúïωtGôgãB ÇÊÏÈ

16.  Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Seperti dijelaskan diatas bahwa petunjuk adalah hak manusia yang diberikan sejak lahir. Petunjuk kebenaran ini yang akan dijadikan modal manusia dalam menuju alam kesadaran. Namun, seperti halnya warisan, hak waris tersebut harus digapai dari sekarang. Ada beberapa orang bodoh yang menukarnya dengan kesesatan. Orang-orang bodoh ini menuruti nafsu rendahnya.[3]

Tidak ada dalih atau alasan bagi orang yang telah tersesat dari jalan Allah. Karena Allah telah mengutus para Rasul-Nya untuk menerangkan ayat-ayat-Nya tetapi mereka mengolok-olok dan tidak mau mengikutinya. Mereka justru berkata: “seandainya Allah menghendaki maka tidaklah kami mengabdi pada mereka (selain Allah).[4]

Orang yang sudah terbiasa melakukan kesesatan dan keonaranatau sudah terbiasa menentang kebenaran dan mengikuti hawa nafsu yang menyebabkan tidak patuh kepada Allah, akan sulit menerima nasehat.[5] Yang menyebabkan seseorang tersesat bukanlah Allah, melainkan seseorang itu sendiri yang meninggalkan petunjuk Allah.[6] Seperti penjelasan dalam surat al-Baqarah ayat tujuh, yaitu hati orang kafir yang telah mengeras dan terkunci oleh sebab mereka menymbunyikan kebenaran danmengingkari realitas yang ada pada diri mereka sendiri.[7]

tûïÏ%©!$#ur (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ @Oß¹ ÖNõ3ç/ur ’Îû ÏM»yJè=—à9$# 3 `tB Î*t±o„ ª!$# ã&ù#Î=ôÒム`tBur ùt±o„ çmù=yèøgs† 4’n?tã :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡•B ÇÌÒÈ

39.  Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya[473]. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.

[473]  disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Rasyid ridha menjelaskan ayat ini bahwa sipa saja ang hendak disesatkan oleh Allah adalah sebagaimana Allah telah menyesatkan mereka yang lebih menyukai kesesatan dari pada petunjuk dan menyesatkan orang yang tidak mau menggunakan pendegaran, penglihatan dan akal mereka unutk mengetahui dan memahami ayat-ayat Allah yang membuktikan kebenaran risalah yang disampaikan Rasul-Nya.

Dalam buku karangan A. Athaillah, Rasyid Ridha mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Allah menyesatkan manusia adalah Allah melaksanakan Sunnah-Nya pada akal pikiran, naluri dan akhlak mereka, dimana mereka menolak ajakan orang yang menurutnya berada dibawahnya dan tidak mau mengikuti orang yang masih selevel dengan dirinya meski sudah jelas pada mereka bahwa orang tersebut benar. Selain itu, orang yang sudah terbiasa bertaklid juga menolak memperhatikan ayat-ayat dan argument-argument yang menyalahkan kebiasaan mereka dan membenarkan yang sebaliknya. Dengan demikian, pengertian “Allah menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya” bukanlah Allah menciptakan kesesatan pada orang yang dikehendaki-Nya tersesat ataupun menjadikan kesesatan itu merupakan tabiatnya sehingga ia menolak kebenaran dan menerima kebathilan.[8]

* $yg•ƒr¯»tƒ ãAqߙ§9$# Ÿw y7Râ“øts† šúïÏ%©!$# tbqãã̍»|¡ç„ ’Îû ̍øÿä3ø9$# z`ÏB šúïÏ%©!$# (#þqä9$s% $¨YtB#uä óOÎgÏdºuqøùrÎ/ óOs9ur `ÏB÷sè? öNßgç/qè=è% ¡ šÆÏBur tûïÏ%©!$# (#rߊ$yd ¡ šcqã軣Jy™ É>ɋx6ù=Ï9 šcqã軣Jy™ BQöqs)Ï9 tûï̍yz#uä óOs9 š‚qè?ùtƒ ( tbqèùÌhptä† zOÎ=s3ø9$# .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÏèÅÊ#uqtB ( tbqä9qà)tƒ ÷bÎ) óOçFÏ?ré& #x‹»yd çnrä‹ã‚sù bÎ)ur óO©9 çnöqs?÷sè? (#râ‘x‹÷n$$sù 4 `tBur ϊ̍ムª!$# ¼çmtFt^÷FÏù `n=sù y7Î=ôJs? ¼çms9 šÆÏB «!$# $º«ø‹x© 4 šÍ´¯»s9ré& tûïÏ%©!$# óOs9 ϊ̍ムª!$# br& tÎdgsÜムóOßgt/qè=è% 4 öNçlm; ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ӓ÷“Åz ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ëU#x‹tã ÒOŠÏàtã ÇÍÊÈ

Hari rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami Telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong[415] dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu[416]; mereka merobah[417] perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: “Jika diberikan Ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan Ini Maka hati-hatilah”. barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

[415] Maksudnya ialah: orang Yahudi amat suka mendengar perkataan-perkataam pendeta mereka yang bohong, atau amat suka mendengar perkataan-perkataan nabi Muhammad s.a.w untuk disampaikan kepada pendeta-pendeta dan kawan-kawan mereka dengan cara yang tidak jujur.

[416]  Maksudnya: mereka amat suka mendengar perkataan-perkataan pemimpin-pemimpin mereka yang bohong yang belum pernah bertemu dengan nabi Muhammad s.a.w. Karena sangat benci kepada beliau, atau amat suka mendengarkan perkataan-perkataan nabi Muhammad s.a.w. untuk disampaikan secara tidak jujur kepada kawan-kawannya tersebut.

[417]  Maksudnya: merobah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi.

Maksud dari tafsir diatas adalah barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah karena keyakinan dan perbuatannya yang rusak, serta melakukan dosa dan maksiat. Maka tidak ada seorangpun yang dapat menunjukinya ke jalan keselamatan dan kebahagiaan.[9]

Allah menciptakan pada mereka kesesatan dari kebenaran yang meneguhkan keimanan orang-orang yang beriman, sesuai dengan kehendak dan pilihan mereka sendiri, akibat mereka cenderung kepada hawa nafsu dan mengotori diri dengan berbagai kejahatan dan maksiat.[10]

  1.         IV.      KESIMPULAN

Hidayah merupakan pengetahuan tentang kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw disertai kesanggupan untuk melaksanakan kebenaran itu secara total hingga akhir hayat. Sedangkan kesesatan merupakan pelaksanaan sunnah Allah yang diberikan pada orang yang tidak mau menggunakan petunjuk dari Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maraghi, Semarang: CV Toha Putra, 1988

Al-Qarni, Aidh Bin Abdullah, Nikmatnya Hidangan Al-Quran, Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2006.

Athailah, A., Rasyid Ridha Konsep Teologi Rasional dalam Tafsir al-Manar, Jakarta: ERLANGGA, 2006.

Hadhiri SP, Choiruddin,  klasifikasi Kandungan Al-Qur’an II, Jakarta: GEMA INSANI, 2005.

Haeri, Syekh Fadhlulah, Jiwa al-Quran Tafsir Surat al-Baqarah, Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA, 2001.

Nata, Abuddin, Tafsir Ayat-Ayat Penddikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.


[1] Aidh Bin Abdullah Al-Qarni., Nikmatnya Hidangan Al-Quran, (Jakarta, maghfirah pustaka;2006), h.167-168.

[2] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Penddikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 27-28.

[3]  Syekh Fadhlulah Haeri, Jiwa al-Quran Tafsir Surat al-Baqarah, (Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA, 2001), h. 26.

[4]  Choiruddin Hadhiri SP, klasifikasi Kandungan Al-Qur’an II, (Jakarta: GEMA INSANI, 2005), h. 87.

[5]  A. Athailah, Rasyid Ridha Konsep Teologi Rasional dalam Tafsir al-Manar, (Jakarta: ERLANGGA, 2006), h. 247.

[6]  Ibid., h. 254.

[7]  Syekh Fadhlulah Haeri, Op.Cit., h. 21-22.

[8]  A. Athaillah, Op.Cit., h. 256-257.

[9]  Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV Toha Putra, 1988), h. 189.

[10] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op.Cit., h. 265.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s