MA’RIFAT bagi ORANG AWAM

Image

  1. A.    Pengertian Awam dan Ma’rifat

Awam, bisa berarti umum atau kebanyakan atau tidak begitu menguasai. Jadi orang awam bisa berarti orang biasa yang tidak khusus (khawas) atau orang yang tidak (begitu) menguasai suatu bidang/masalah.

Dalam pengertian yang kedua, semua orang bisa saja awam. Orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang teknologi misalnya, bisa awam di bidang agama. Sebaliknya, orang yang ahli agama, bisa jadi orang awam di bidang bisnis.

Menurut pengalaman Al-Ghazali, kecerdasan dan kesanggupan akal manusia itu tidaklah sama. Senantiasa ada orang awam, yaitu manusia biasa, dan ada orang khawas, yang berfikir lebih cerdas. Ghazali menasehatkan supaya orang awam yang belum sanggup berfikir lebih cerdas tidak usah berfikir dalam-dalam, yang justru akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki[1].

Sedangkan kata ma’rifat yang terkenal dikalangan ahli tasawuf, yakni pengertian yang mendalam pada hati dengan bentuk ilham atau sesuatu yang dapat membuka tabir yang menutup hati dengan istilah Kasyf (menyingkap). Ma’rifat ini merupakan tahap akhir dari usaha kaum sufi dalam mencapai yang dituju.

Ajaran ma’rifat menjadi sebuah doktrin dan bahkan menjadi tujuan utama bagi kalangan sufi. Seperti dijelaskan sebelumnya, ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat hingga hati sanubari melihat Tuhan. Dalam ma’rifat yang paling ditekankan adalah pada pengenalan diri, karena lewat pengenalan diri inilah manusia mengenal Tuhan[2].

Ma’rifat diperoleh bukan melalui belajar, usaha dan pembuktian, ataupun hasil pemikiran manusia tetapi ma’rifat merupakan ilham yang dilimpahkan Allah swt. kedalam hati yang paling rahasia pada hambaNya sehingga mengenal TuhanNya.

Menurut Al-Qusyairi dalam tasawuf karya Asep Umar Ismail, dkk., mengatakan bahwa terdapat tiga alat dalam tubuh manusia yang mampu digunakan untuk mencapai ma’rifat, yaitu qalb untuk mengetahui sifat Tuhan, ruh untuk mencintai Tuhan, dan sirr untuk melihat rahasia Tuhan. Sirr lebih halus dari ruh dan ruh lebih halus dari qalb[3].

  1. B.     Ma’rifat orang awam

Ma’rifat tidak mungkin asing ditelinga para sufi. Namun bagi orang awam, ma’rifat adalah suatu hal yang benar-benar sakral. Kebanyakan orang awam mendekatkan diri pada Allah dengan sepenuh hati, namun metode mereka dalam beribadah hanya ikut-ikutan atau sering disebut taklid. Ma’rifat kaum awam ini tingkatan yang paling rendah dari tingkatan lainnya. Mengenal Allah melalui jalan taqlid merupakan ma’rifat kaum awam, kaum yang agamanya kurang mendalam[4].

Orang yang sama sekali tidak mengetahui tasawuf bisa juga disebut orang awam. Orang  seperti ini bisa melatihnya dengan mempelajari tasawuf dengan orang yang sudah mengerti dunia tasawuf. Seperti dalam yang dikatakan berbagai sumber bahwa taubatnya orang awam itu karena dosa, namun taubatnya orang khawas itu karena lalai.

Seperti dijelaskan diatas bahwa ma’rifat merupakan bentuk pengetahuan untuk mengenal Tuhannya lebih dekat. Dalam kacamata kita yang notabanenya orang awam sendiri merasa pengetauhan kita masih berada jauh dari Tuhan. Namun bagi sufi atau Khawas pengetahuan untuk mencapai Tuhan sangatlah mudah. Bahkan mereka sampai mengatakan “Memandang wajah Tuhan swt.”.

Tidak dipungkiri memang pengetahuan orang awam tentang Tuhan masih dasar, namun kebanyakan mereka mempunyai semangat agar bisa sedemikian dekat dengan Tuhannya. Karena seperti yang dikatakan Othman dalam bukunya yang berjudul pintu-pintu Kesalehan bahwa menjadi kekasih Allah adalah impian setiap makhluk di dunia ini.

Ma’rifat bagi orang awam memang identik lebih ikut-ikutan atau sering disebut dengan Taqlid. Pengetahuan orang awam bisa dikatakan pengetahuan yang masih dasar. Contoh saja dalam puasa. Orang awam mempunyai pandangan berbeda tentang faedah puasa namun mereka masih tertuju pada Allah swt. Kita yang notabene sebagai orang awam pun jika ditanya masalah faedah puasa pasti yang terjawab tidak lain adalah untuk mencari Ridho Allah swt. tidak hanya sekedar itu tapi embel-embel agar maksud kita tercapai pun melekat.

Dari referensi karya Prof. Amin banyak membahas berbagai macam amalan-amalan yang dikerjakan orang awam dalam beribadah. Salah satu contohnya adalah amalan puasa senin-kamis. Seseorang mengamalkan puasa senin-kamis karena usulan dari teman yang kemudian dia melakukannya terus menerus. Diapun tidak begitu mengetahui makna, hikmah dan manfaat puasa tersebut. Apa yang telah dia lakukan disini adalah amalan yang benar, namun alangkah lebih baik jika melakukannya harus mengetahui makna dan hikmahnya.

Dalam keterangan diatas sudah jelas bahwa ada perbedaan bertasawuf antara orang yang mengerti dan memahami tasawuf dengan orang yang belum mengerti ataupun sudah mengerti sedikit.


[1] Prof. Dr. Hamka, Tasauf Perkembangan Dan Pemurniannya, (Jakarta : Panjimas, 1952), h. 126.

[2] Sulaiman Al-Kumayyi, Ma’rifatullah Pesan-Pesan Sufistik Panglima Utara, (Semarang: Walisonggo Press, 2008), h. 98-99.

[3]  Asep Usmar Ismail, dkk, Op. Cit., h. 122-123.

[4]  Tohari Musnamar, Jalan Lurus Menuju Ma’rifatullah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004), h. 38.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s