orientalisme

  1. A.  J. Wensinck terhadap Pandangan Hadits

MAKALAH

                                  Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Orientalisme

Dosen Pengampu : Ibu Yusriyah

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                         

 

 

 

Disusun Oleh :

                                                Abdul Ghani       (104111040)

                                                Ainul Maftuchah          (104111041)

FAKULTAS USHULUDDIN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

 

  1. PENDAHULUAN

Studi seputar relasi antara Islam dan orientalisme termasuk studi prestisius. Hampir setiap bidang Islamic studies berkaitan dengan orientalisme, baik itu tafsir, hadis, fikih, filsafat, sufisme maupun sejarah. Masing-masing bidang studi tidak luput dari sentuhan kajian para orientalis, bahkan mereka berhasil menghasilkan karya-karya bermutu yang tidak dapat dilakukan oleh sebagian umat Islam. Lebih dari itu, sebagian sarjana Muslim kadang menggunakan karya-karya mereka sebagai bahan referensi dalam penelitian mereka.Sebagai bukti, dalam bidang hadis, mereka meracik sebuah kamus besar guna melacak keberadaan sebuah hadis berdasarkan teks utama dari hadis tersebut dalam enam buku koleksi hadis kanonik, Sunan al-Darimi, Muwatta’ Malik, dan Musnad Ahmad ibn Hanbal dengan judul Concordance Et Indices De La Tradition Musulmane (al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāz al-Hadīth al-Nabawī) dalam tujuh jilid tebal. Kamus hadis ini adalah karya sekelompok orientalis yang dipublikasikan oleh A. J. Wensinck dan J. P. Mensing. Selain kamus ini, A. J. Wensinck meracik kamus hadis yang lebih kecil darinya yang berjudul Miftah Kunuz al-Sunnah. Dua karya monumental ini sekaligus bukti bahwa tidak semua karya para orientalis jelek, bahkan sebaliknya. Memang sebagian karya mereka tidak luput dari motivasi sentimen keagamaan yang berujung pada kesalahan, baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Hanya saja, dari masa ke masa kajian sebagian orientalis mengalami pergeseran paradigma dari subyektivisme yang dipacu oleh sentimen keagamaan menuju obyektivisme yang dimotori oleh keterbukaan dan kejujuran intelektual.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Pemikiran A. J. Wensink tentang Aqidah Islam
    2. Pemikiran A. J. Wensink tentang Hadits

 

 

 

  1. PEMBAHASAN
    1. Pemikiran A. J. Wensink tentang Aqidah Islam

Wensink adalah seorang orientalis berkebangsaan belanda, dahulunya sebagai tenaga pengajar bahasa Arab pada Universitas Leiden. Ia wafat pada tahun  1939M.

Wensinck mencoba menyamakan Aqidah Islamiyah dengan aqidah masehi, dalam mengemukakan perkembangan dan pertumbuhan sepanjang sejarah lewat generasi ke generasi sesudah Isa dan Muhammad saw.

Ini merupakan anggapan batil dari pokoknya. Sebagaimana yang sudah di kenal, aqidah  masehi pada aslinya adalah yang di wahyukan kepada Isa a.s. dan merupakan aqidah tauhid. Namun kemudin dimasuki penyimpangan hingga sampai abad keempat masehi. Da dalamnya muncul ajaran trinitas yang di ajarkan oleh paulus pada abad pertama Masehi. Disamping itu muncul pula tambahan lain yang menganggap bahwa al-Masih adalah putra Tuhan. Ia disalib untuk menebus dosa yang dilakukan manusia.

Semua perkembangan aqidah yang menimbulkan kemusyrikan yang ada dalam agama Masehi itu, tidak akan terjadi dalam Islam. Sebab al-qur’an merupakan sumber aqidah yang tidak akan berubah, dan Allah telah menjaganya dari segala perubahan.

Menurut Wensinck, al-Qur’an tidak memberi penjelasan tentang aqidah Islam secara jelas yang dapat dijadikan sebagai patokan untuk membedakan dengan agama lain, atau dalam membedakan dengan segala firqoh Islam yang ada.

Lebih lanjut Wensinck melandasi dakwaannya itu dengan mengatakan adanya perbedaan dalam dakwah ketika di Makkah dan di Madinah. Saat di Makkah Ia beranggapan bahwa Muhammad memberikan kabar gembira kepada kaum musyrikin Quraisy dengan  datangnya agama baru yang diambil dari ajaran Yahudi dan Masehi. Sedangkan saat di Madinah Rasul dianggap membentuk suatu kekuatan umat untuk menyingkirkan kaum Yahudi karena mereka menolak untuk mengikuti dan juga menolak risalah yang dibawanya.

Dalam mengukuhkan dakwaan dustanya ituWensinck mengemukakan pendapat orientalis lain, Snouck Hourgrounje, Ia menganggap bahwa perhatian yang difokuskan oleh Muhammad ketika di Madinah bukan untuk kepentingan aqidah tetapi hanya untuk mengukuhkan kekuasaan dengan jalan pemerintahan agama (theokrasi).[1]

  1. Pemikiran A. J. Wensink tentang Hadits

Ide pemikiran untuk menerbitkan indeks lafadz Hadits diserahkan kepadanya. Awal ide pemikiran itu kembali pada tahun 1916 M dimana Ia mulai menulisnya. Buku ini ditulis dalam delapan jilid. Jilid pertama dikeluarkan dan dicetak pada tahun 1936 M, sedangkan jilid yang lain dikeluarkan setelah Wensinkc meninggal. Akhir dari penerbitannya secara komplit pada tahun 1969 dan dibawah pengawasan banyak kaum orientalis.

Banyak sekali ungkapan  dan pujian yang berlebihan tentang indeks Hadits tersebut, bahkan sampai ada kesimpulan yang menganggapnya sebagai bukti objektifitas kaum orientalis, kesadaran serta pertolongan terhadap Islam.

Memang tidak diragukan lagi bahwa kamus atau indeks hadits merupakan rujukan yang sangat penting. Namun sebagai rujukan, indeks hadits ini bisa bermanfaat atau malah justru bisa memberikan madharat, tergantung dalam menggunakannya. Seorang  muslim tentunya dalam menggunakannya unutk merujuk kepada Hadits Rasulullah dan Sunnah. Tujuannya untuk memperoleh petunjuk kemudian mengamalkannya dengan menyeru kepada manusia unutk mengikuti dan mengamalkan sunnah beliau. Dengan begitu indeks menjadi rujukan yang sangat berguna dan bermanfaat.

Lain halnya dengan orientalis lainnya. Mereka menggunakannya sebagai alat untuk dapat mendekatkan dan memudahkan sampainya kepada sebuah Hadits, yang kemudian digunakan sebagai alat penyerang dan perusak al-Qur’an, sunnah, aqidah, syariat Islam secara keseluruhan.

Tidak diragukan memang, pemikiran Wensinkc dalam pembuatan Indeks Hadits adalah untuk tujuan tersebut, seperti yang terlihat dalam keadaan dan latar belakang pembuatannya, aktifitasnya serta dalam menggunakannya.[2]

Methode pembuatan indeks hadits ini tak lain adalah untuk menghancurkan aqidah Islamiyah. Untuk lebih memberikan gambaran dengan jelas tentang methode mereka, lihat contoh-contoh berikut:

Hadits tentang Islam, Iman dan Ikhsan

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dair Umar Ibn Khattab r.a, bahwa beliau ditanya oleh jibril tentang Islam, Iman dan Ihsan. Maka Beliau pun menjawab: “Islam adalah bersakis kepada Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendiirkan shalat, membayar zakat, melakuakn puasa dan menunaikan haji bila mampu. Sedangkan Iman adalah beriman kepada  Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari pembalasan serta kepada takdirNya. Sedangkan ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan melihatNya, jika tidak maka Allah melihat kita”.

Dalam hadits tersebut di atas, orientalis jahil ini mempunyai beberapa tanggapan yang penting adalah:

  1. Perbedaan antara Islam dan Iman untuk pertama kalinya disebutkan dan dirincikan dalam hadits, sepanjang perjalanan sejarah Aqidah Islamiyah. Sebab menurutnya dalam al-Qur’an tidak pernah disebutkan perbedaan itu. Karena itu sudah tentu bahwa kedudukan Hadits untuk menyempurnakan Qur’an.

Andai saja mereka lebih bertanggung jawab, pasti akan mengetahui secara persis bahwa dalam surat al-Hujurat ayat 14-15 telah ada yang menunjukkan dengan jelas dan gamblangrincian perbedaan antara Islam dengan Iman.

Ibnu katsir mengatakan dalam tafsirnya:”dari ayat al-hujurat dapat diambil pengertian bahwa Iman lebih khusus daripada Islam. Jadi, Islam merupakan simbol semua amalan dzahir, sedangkan Iman adalah pembenaran hati terhadap Allah dan RasulNya tanpa ada unsur keraguan ataupun was-was. Pembenaran hati ini merupakan sumber munculnya amalan shaleh, seperti berinfak, jihad, dsb.

  1. Adapun tentang ihsan, orientalis mengatakan bahwa ihsan merupakan unsur baru dalam ajaran Islam yang diambil dari pemahaman ajaran Masehi.[3]

 

  1. KESIMPULAN

Wensink adalah seorang orientalis berkebangsaan belanda, dahulunya sebagai tenaga pengajar bahasa Arab pada Universitas Leiden. Ia wafat pada tahun  1939M. beliau adalah salah satu orientalis yang mengakji tentang aqidah Islam dan Hadits. Dalam pemikirannya Beliau mencoba menelaah kelemahan orang muslim dalam memahami Islam sendiri. Terutama dalam pembuatan indeks hadits yang mana itu sangat penting dipelajari muslim untuk membuktikan kebenaran Hadits.

 

Daftar pustaka

Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalis (Jakarta: Pustaka Alkautsar, 1992)


[1] Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalis (Jakarta: Pustaka Alkautsar, 1992), h. 132-133.

[2] Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalis (Jakarta: Pustaka Alkautsar, 1992), h. 132-134.

[3] Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalis …, h. 145-147.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s