Filsafat dan Agama

  1. I.                   PENDAHULUAN

Istilah filsafat dan agama mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang. Filsafat dalam cara kerjanya bertolak dari akal, sedangkan agama bertolak dari wahyu. Oleh sebab itu, banyak kaitan dengan berfikir sementara agama banyak terkait dengan pengalaman. Filsafat membahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan. Agama tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang-kadang tidak terlalu memperhatikan aspek logisnya.

Perbedaan tersebut menimbulkan konflik berkepanjangan antara orang yang cenderung berfikir filosofis dengan orang yang berfikir agamis, pada hal filsafat dan agama mempunyai fungsi yang sama kuat untuk kemajuan, keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Untuk menelusuri seluk-beluk filsafat dan agama  secara mendalam perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan agama dan filsafat  itu.

 

  1. II.                RUMUSAN MASALAH
    1. Pengetian Filsafat dan Agama.
    2. Peran Agama sebagai objek Filsafat.
    3. Perbandingan Agama dan Filsafat.

 

  1. III.             PEMBAHASAN
    1. A.    Pengertian Filsafat dan Agama

Muhammad Hatta dan Langeveld mengatakan “lebih baik pengertian filsafat itu tidak dibicarakan lebih dahulu. Jika orang telah banyak membaca filsafat ia akan mengerti sendiri apa filsafat itu.[1] Namun demikian definisi filsafat bukan berarti tidak diperlukan. Bagi orang yang belajar filsafat definisi itu juga diperlukan, terutama untuk memahami pemikiran orang lain.

Oleh karena itu, timbul pertanyaan siapa yang pertama sekali memakai istilah filsafat dan siapa yang merumuskan definisinya. Disamping ini ternyata ada perbedaan pendapat tentang asal fisafat. Semenjak semula telah terjadi perbedaan pendapat tentang asal kata filsafat. Ahmad Tafsir umpamanya mengatakan filsafat adalah gabungan dari kata philein dan sophia. Menurut Harun Nasution  kedua  kata tersebut  setelah digabungkan menjadi philosophia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti cinta hikmah atau kebijaksanaan.

Dalam al-Quran kata filsafat tidak ada, yang ada  hanya adalah kata hikmah.  Pada umumnya orang memahami antara hikmah dan kebijaksanaan itu sama, pada hal sesungguhnya maksudnya berbeda. Harun Hadiwijono mengartikan kata philosophia dengan mencintai kebijaksanaan[2], sedangkan Harun Nasution mengartikan dengan hikmah[3]. Kebijaksanaan biasanya diartikan dengan pengambilan keputusan berdasarkan suatu pertimbangan tertentu yang kadang-kadang berbeda dengan peraturan yang telah ditentukan. Adapun hikmah sebenarnya diungkapkan pada sesuatu yang agung atau suatu peristiwa yang dahsyat atau berat[4]. Namun dalam konteks filsafat kata philosophia itu merupakan terjemahan dari love of wisdom[5].

Sedangkan Agama menurut Muhammad Abdul Qadir Ahmad agama adalah sistem hidup yang diterima dan diridhoi Allah yaitu sistem yang hanya diciptakan Allah dan atas dasar itu manusia tunduk dan patuh kepadaNya. Sistem hidup itu mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk akidah, akhlak, ibadah dan amal perbuatan yang disyari`atkan Allah untuk manusia[6].

Setelah diketahui pengertian masing-masing dari agama dan filsafat, perlu diketahui apa sebenarnya pengertian filsafat agama. Harun Nasution mengemukakan bahwa filsafat agama adalah berfikir tentang dasar-dasar agama menurut logika yang bebas. Pemikiran ini terbagi menjadi dua bentuk, yaitu: Pertama membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis tanpa terikat kepada ajaran agama, dan tanpa tujuan untuk menyatakan kebenaran suatu agama. Kedua membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis dengan maksud untuk menyatakan kebenaran suatu ajaran agama atau sekurang-kurangnya untuk menjelaskan bahwa apa yang diajarkan agama tidaklah mustahil dan tidak bertentangan dengan logika[7]. Dasar-dasar agama yang dibahas antara lain  pengiriman rasul, ketuhanan, roh manusia, keabadian hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, soal kejahatan, dan hidup sesudah mati dan lain-lain. Oleh sebab itu pengertian filsafat agama adalah berfikir secara kritis dan analitis menurut aturan logika tentang  agama secara mendalam sampai kepada setiap dasar-dasar agama itu.

 

  1. B.      Peran Agama sebagai Objek Filsafat

 

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa agama dan filsafat adalah dua pokok persoalan yang berbeda. Agama banyak berbicara tentang hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa. Dalam agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam), Yang Kuasa itu disebut Tuhan atau Allah, sedangkan dalam agama ardhi Yang Kuasa itu mempunyai sebutan yang bermacam-macam, antara lain Brahma, Wisnu dan Siwa dalam agama Hindu, Budha Gautama dalam agama Budha, dan sebagainya. Semua itu merupakan bagian dari ajaran agama dan setiap ajaran  agama itulah yang menjadi  objek pembahasan filsafat agama. Filsafat seperti yang dikemukakan bertujuan menemukan kebenaran. Jika kebenaran yang sebenarnya itu mempunyai ciri sistematis, jadilah ia kebenaran filsafat.

Kata objek dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan sasaran atau sesuatu yang menjadi pelengkap dari suatu aktivitas. Apa saja yang menjadi sasaran dalam suatu aktivitas berarti hal itu menjadi objek dari aktivitas tersebut. Jika seorang peneliti  melakukan penelitian tentang pola hidup masyarakat nelayan di A maka  semua pola hidup dan tingkah laku masyarakat nelayan tersebut  adalah menjadi objek penelitian. Dengan kata lain setiap nelayan yang ada di lokasi penelitian yang dilakukan itu jelas menjadi objek dari penelitian tersebut.

Isi filsafat itu ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Karena filsafat mempunyai pengertian yang berbeda sesuai dengan pandangan orang yang meninjaunya, akan besar kemungkinan objek dan lapangan pembicaraan filsafat itu akan berbeda pula. Objek yang dipikirkan filosof adalah segala yang ada dan yang mungkin ada, baik ada dalam kenyataan, maupun yang ada dalam fikiran dan bisa pula yang ada itu dalam kemungkinan[8].

Aristoteles mengemukakan bahwa objek filsafat adalah fisika, metafisika, etika, politik, biologi, bahasa. Al-Kindi mengemukakan bahwa objek filsafat itu adalah fisika, matematika dan ilmu ketuhanan[9]. Menurut al-Farabi, objek filsafat adalah semua yang maujud[10]. Selain yang dikemukakan oleh para filosof di atas, menambahkan bahwa kepercayaan itu termasuk objek pembicaraan filsafat[11].

Semua sasaran pembahasan di atas merupakan materi pembahasan filsafat. Agama adalah salah satu materi yang menjadi sasaran pembahasan filsafat. Dengan demikian, agama menjadi objek materia filsafat. Ilmu pengetahuan juga mempunyai objek materia yaitu materi yang empiris, tetapi objek materia filsafat adalah bagian yang abstraknya. Dalam agama terdapat dua aspek yang berbeda yaitu aspek pisik dan aspek metefisik. Aspek metafisik adalah hal-hal yang berkaitan dengan yang gaib, seperti Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan hubungan manusia dengan-Nya, sedangkan aspek pisik adalah manusia sebagai pribadi, maupun sebagai anggota masyarakat.

Kedua aspek ini (pisik dan metafisik) menjadi objek materia filsafat. Namun demikian objek filsafat agama banyak ditujukan kepada aspek metafisik daripada aspek fisik .Aspek fisik itu sebenarnya sudah menjadi pembahasan ilmu seperti ilmu sosiologi, psikologi, ilmu biologi dan sebagainya. Ilmu dalam hal ini sudah memisahkan diri dari filsafat. 

Dengan demikian, agama ternyata termasuk objek materia filsafat yang tidak dapat diteliti oleh sains. Objek materia filsafat jelas lebih luas dari objek materi sains[12]. Selain objek materia terdapat pula objek forma filsafat yaitu cara pandang yang menyeluruh, radikal dan objektif tentang yang ada untuk mengetahui hakikatnya.

Dengan demikian,  agama sebagai objek forma filsafat adalah cara pandang yang radikal tentang agama dan berbagai persoalan yang terdapat dalam agama itu. Dengan kata lain objek forma filsafat adalah pembahasan yang mendalam dan mendasar dari setiap hal yang menjadi ajaran dari seluruh agama di dunia ini. Seperti diungkapkan di atas bahwa pemabahasan terpenting dalam setiap agama adalah ajaran tentang Tuhan. Pembahasan ini tidak hanya melihat argumentasi yang memperkuat keyakinan tentang Tuhan, tetapi juga argumen yang membantah, melemahkan  bahkan menolak wujud Tuhan itu. Hal inilah yang akan dibahas dalam filsafat agama.

Karena begitu mendalamnya pembahasan tentang Tuhan terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi. Dengan mempelajari agama bisa seseorang   berubah keyakinan. Ada orang yang membahas persoalan kepercayaan dalam agama itu menambah keyakinannya terhadap Tuhan. Ada orang yang membahas persoalan kepercayaan tentang Tuhan, tetapi karena ia tidak mendapatkan kepuasan dalam penemuannya sehingga orang itu berpaling dari keyakinannya semula. Jika seorang pada mulanya percaya kepada Tuhan, tetapi setelah membahas eksistensi Tuhan ia bisa menjadi tidak percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, seorang yang ateis, yang kemungkinan dalam hidupnya mengalami kekosongan dan kegersangan jiwa setelah berfikir tentang pengalaman orang yang beragama bisa pula menjadi penganut agama yang kuat.

Tidaklah terlalu asing orang mengatakan bahwa pembahasan filsafat agama tidak menambah keyakinan atau tidak meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan. Ini bisa berarti bahwa pembahasan agama secara filosofis tidak perlu dan usaha itu adalah sia-sia. Tetapi perlu diingat bahwa pembahasan filsafat agama bertujuan untuk menggali kebenaran ajaran-ajaran agama tertentu atau paling tidak untuk mengemukakan bahwa hal-hal yang diajarkan dalam agama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip logika[13].

Sebenarnya objek filsafat agama tersebut tidak hanya persoalan-persoalan ketuhanan semata, tetapi juga sampai kepada persoalan-persoalan eskatologis. Persoalan eskatologis pada umumnya berbicara tentang hari kiamat dan hal-hal yang akan dialami manusia pada waktu itu, seperti persoalan keadilan Tuhan, penerimaan pahala dan siksa. Pentingnya persoalan eskatologis sebagai objek pembahasan  filsafat agama karena eskatologislah yang mendorong  orang bersemangat orang untuk menjalankan ajaran agamanya. Tanpa ada tanggung jawab terhadap amal perbuatannya keberadaan agama menjadi kurang menarik. Hidup sesudah mati inilah yang membuat pemeluknya menjadi tertarik kepada kepada agama.

Filsafat agama sebenarnya bukanlah langkah untuk menyelesaikan persoalan agama secara tuntas. Pembahasan filsafat agama hanya bertujuan untuk mengungkapkan argumen-argumen yang mereka kemukakan dan memberikan penilaian terhadap argumen tersebut dari segi logisnya.       

Contoh dari perbedaan ojek filsafat dan objek sains antara lain adalah hujan. Apa itu hujan? Mata melihat hujan, demikian penjelasan Ahmad Tafsir, adalah air yang turun dari langit. Kenapa air turun dari langit? Kata ilmuan hujan itu adalah air yang menguap berkumpul di atas, lalu turun, itulah hujan. Mengapa air laut, air danau, air sumur dan sebagainya menguap? Menurut sain itu disebabkan pemanasan. Kenapa di Indonesia banyak hujan, di Arab Saudi tidak? Karena di Indonesia banyak gunung, sedangkan di Arab Saudi sedikit gunung. Semua itu adalah jawaban sains. Selanjutnya pertanyaan muncul, kenapa di Indonesia banyak gunung dan Arab Saudi sedikit gunung? Sain tidak dapat menjawab lagi. Filosof mencoba menjawab, adalah karena kebetulan. Apa itu kebetulan? Kebetulan adalah salah satu bentuk hukum alam. Apa itu hukum alam? Hukum alam adalah hukum kehendak alam menurut sebagian orang dan kehendak Tuhan menurut sebagian lagi. Dari kata kebetulan sampai kepada kehendak Tuhan adalah jawaban filsafat, karena jawaban tersebut hanya berdasarkan pikiran logis tanpa didukung oleh fakta empiris[14].  

Selain itu filsafat merupakan analisa logis dari segi bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Di sini yang dilihat adalah maksud dari suatu istilah, seperti maksud dari agama itu apa. Sudah logiskah sesuatu yang dinyatakan dalam agama itu. Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli filsafat, yang dimaksud dengan filsafat di sini adalah berfikir menurut tata-tertib logika dengan bebas (tidak terikat pada suatu tradisi, dogma, serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai kepada dasar-dasar persoalan. Yang utama dalam tulisan ini adalah analisis kritis dan logis terhadap setiap persoalan agama. Sehubungan dengan itu, apa sebenarnya yang menjadi objek pembahasan filsafat, apakah segala sesuatu tanpa kecuali dapat menjadi objek pembicaraan filsafat?.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa objek pembicaraan filsafat itu banyak sekali, yaitu segala yang ada. Agama ternyata merupakan salah satu  objek pembicaraan filsafat.

 

  1. C.     Perbadingan Agama dan Filsafat

 

Dari uraian di atas diketahui bahwa antara agama dan filsafat itu terdapat perbedaan. Menurut Prof. Dr. H. H. Rasyidi, perbedaan antara filsafat dan agama bukan terletak pada bidangnya, tetapi terletak pada cara menye-lidiki bidang itu sendiri[15]. Filsafat adalah berfikir, sedangkan agama adalah mengabdikan diri, agama banyak hubungan dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungan dengan pemikiran. Williem Temple, seperti yang dikutip Rasyidi, mengatakan bahwa filsafat menuntut pengetahuan untuk memahami, sedangkan agama menuntut pengetahuan untuk beribadah atau mengabdi[16]. Pokok agama bukan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi yang penting adalah hubungan manusia dengan Tuhan.

Di sisi lain agama mulai dari keyakinan, sedangkan  filsafat mulai dari mempertanyakan sesuatu. Mahmud Subhi mengatakan bahwa agama mulai dari keyakinan yang kemudian dilanjutkan dengan mencari argumentasi untuk memperkuat keyakinan itu, (ya`taqidu summa yastadillu), sedangkan filsafat berawal dari mencari-cari argumen dan bukti-bukti  yang kuat dan kemudian  timbullah keyakinannya (yastadillu summa ya`taqidu)[17]. Dalam pendapat  Mahmud Subhi, agama di sini kelihatan identik dengan kalam, yaitu berawal dari keyakinan, bukan berawal dari argumen.     

Perbedaan lain antara agama dan filsafat adalah bahwa agama banyak hubungannya dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungannya dengan pikiran yang dingin dan tenang. Agama dapat diidentikkan dengan air yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya, sedangkan filsafat diumpamakan dengan air telaga yang jernih, tenang dan kelihatan dasarnya. Seorang penganut agama biasanya selalu mempertahankan agama habis-habisan karena dia sudah mengikatkan diri kepada agamanya itu. Sebaliknya seorang ahli filsafat sering bersifat lunak dan sanggup meninggalkan pendiriannya jika ternyata pendapatnya keliru[18]. Dalam diri seorang ahli filsafat terdapat maksud meneliti argumen-argumen yang mendukung pendapatnya dan kelemahan argumen tersebut walaupun untuk argumen dia sendiri, sedangkan dalam diri penganut suatu agama tidak terdapat keinginan seperti itu. 

Seseorang memerlukan kepiawaian dalam mengemukakan argumen, memahami teknik analisa serta mengetahui sejumlah bahan pengetahuan untuk memikirkan segala sesuatu secara logis, termasuk setiap problem kehidupan yang ada hubungannya dengan hal itu[19]. Melihat sesuatu itu memerlukan pemikiran luas, dan jauh dari emosi. Tetapi harus disadari bahwa agama pada satu sisi memang ditandai dengan unsur-unsur yang bersifat memihak kepada keyakinannya sendiri. Tanpa ada sifat memihak, agama kadang-kadang kurang terasa maknanya.

 

  1. IV.             KESIMPULAN

 

Pada dasarnya istilah filsafat dan agama mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang. Filsafat dalam cara kerjanya bertolak dari akal, sedangkan agama bertolak dari wahyu. Oleh sebab itu, filsafat banyak berkaitan dengan fikiran sementara agama banyak terkait dengan pengalaman. Pengertian filsafat itu sendiri adalah suatu pengetahuan yang mengajak manusia untuk mengetahui atau meneliti sesuatu sebebas-bebasnya tanpa mengenal kesukuan. Sedangkan agama adalah system hidup yang diterima dan diridhoi Allah. Sistem hidup ini mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk akidah, akhlak, ibadah dan amal perbuatan yang disyari`atkan Allah untuk manusia.

Agama termasuk objek materia filsafat yang tidak dapat diteliti oleh sains. Objek materia filsafat jelas lebih luas dari objek materi sains. Selain objek material terdapat pula objek forma filsafat yaitu cara pandang yang menyeluruh, radikal dan objektif tentang yang ada untuk mengetahui hakikatnya. Dengan demikian,  agama sebagai objek forma filsafat adalah cara pandang yang radikal tentang agama dan ber-bagai persoalan yang terdapat dalam agama itu. Dengan kata lain objek forma filsafat adalah pembahasan yang mendalam dan mendasar dari setiap hal yang menjadi ajaran dari seluruh agama di dunia ini.

Perbedaan antara agama dan filsafat adalah bahwa agama banyak hubungannya dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungannya dengan pikiran yang dingin dan tenang. Agama dapat diidentikkan dengan air yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya, sedangkan filsafat diumpamakan dengan air telaga yang jernih, tenang dan kelihatan dasarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Qur’anul Karim.

Dardiri, Humaniora, Filsafat dan Logika, Jakarta : Rajawali Press, 1986.

Hadiwijono, Harun, Sari-Seri Sejarah Filsafat Barat I, Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Nasution, Harun, Filsafat Agama, Jakarta:Bulan Bintang, 1983.

Rasyidi, Filsafat Agama, Jakarta:Bulan Bintang, 1965.

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales sampai James, Bandung : Rosdakarya, 1994.

 


[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales sampai James, (Bandung : Rosdakarya, 1994), hlm. 8.

[2] Harun Hadiwijono, Sari-Seri Sejarah Filsafat Barat I, Yogyakarta: Kanisius, 1991, hlm. 7.

[3] Harun Nasution, Filsafat Agama, Jakarta:Bulan Bintang, 1983, hl 9.

[4] Lihat al-Quran Surat al-Baqarah, 123, 151, 231, 251.

[5] Ahmad Tafsir, op. cit., hlm.  8.

[6] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, terjemahan dari Turuq al-Ta`lim al-Tarbiyah al-Islamiyyah, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1984-1985,  hlm. 8.

 

[7] Harun Nasution, op. cit., hlm. 10.  

[8] Dardiri, Humaniora, Filsafat dan Logika,( Jakarta : Rajawali Press, 1986), hlm.  13.

[9] M.M. Syarif,  A History of Muslim Philosophy,  (Otto Horrassowitz: Wiesbaden, 1963), hlm. 424.

[10] Ibid., hlm. 456.

[11] Ibid., hlm. 66.

[12] Ahmad Tafsir, Op. Cit., hlm.  19.

 

[13] Harun Nasution, Op. Cit., hlm. 10.

[14] Ibid., hlm. 10.

[15] Rasyidi, Filsafat Agama, (Jakarta:Bulan Bintang, 1965), hlm. 3.

[16] Ibid., hlm. 3-4.

[17] Ahmad Mahmud Subhi, Fi `Ilm al-Kalam, Dirasat Falsafiyyah. Dar al-Kutub al-Jami`iyyah, 1969, hlm. 4.

[18] Rasyidi, op. cit., hlm. 4.

[19] Nasution, op. cit., hlm. 11.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s