PEMIKIRAN JOSEPH SCHACHT tentang HADITS

  1. I.                   PENDAHULUAN

Umat islam berpandangan bahwa hukum islam bersumber dari Al-Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas. Telah kita ketahui bahwa ke-4 sumber tersebut sudah mendarah daging ditelinga dan kacamata kehidupan umat islam terutama dikalangan Nahdlatul Ulama’.

Tujuan utama setiap hukum adalah untuk memungkinkan terjadinya kehidupan social. Dalam masyarakat sendiri hukum diciptakan manusia dan merefleksikan nilai-nilai yang ada pada masyarakat pada masanya. Nilai-nilai masyarakat, meskipun dalam beberapa hal mengambil sumber-sumber aslinya dari sumber-sumber agama, namun masyaralat juga pun yang menentukan sendiri.

 

  1. II.                RUMUSAN MASALAH
    1. Biografi Joseph Schacht
    2. Pokok pemikiran Joseph Schacht tentang hadits
    3. Komentar tokoh lain tentang pemikiran Joseph Schacht

 

  1. III.             PEMBAHASAN
    1. A.    Biografi Joseph Schacht

Joseph Schacht lahir pada tanggal 15 Maret 1902 di Ratibor Silesia (termasuk wilayah Jerman). Ia berasal dari keluarga yang relative agamis dan terdidik. Ayahnya (Eduart Schacht) adalah penganut katolik Roma dan sebagai guru anak-anak bisu dan tuli[1].

Schacht merupakan seorang sejarahwan Hukum yang memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu pengetahuan, baik tentang perkembangan sejarah Hukum Islam atau tentang Sunnah Nabi. Ia memulai pendidikannya di Ratibor kemudian ia melanjutkan studinya di Universitas Breslau untuk mempelajari Filosof klasik semitik dan teologi. Karirnya dimulai sejak ia menerima pemilihan akademis di Universitas Freiburg pada tahun 1925.

Pada tahun 1970, ia bermaksud melepaskan jabatannya dan melanjutkan rutinitasnya sebagai sarjana dan melakukan sebuah penelitian kembali. Namun, semua keinginannya tidak terealisasikan dengan baik, karena tiba-tiba ia terserang pendarahan otak dan meninggal dunia di rumahnya di New Jersey pada tanggal 1 Agustus 1969[2].

  1. B.     Pokok pemikiran Joseph Schacht tentang hadits

Pemikiran Joseph Schacht salah satunya ditujukan terhadap doktrin-doktrin sumber Hukum Islam. Hal tersebut berbeda dengan pemahaman tradisional, kajian tidak bersifat Toelogis maupun Yuridis, akan tetapi lebih bersifat Historis dan Sosiologis. Ia menawarkan Islam bukan sebagai seperangkat norma yang diwahyukan Tuhan, akan tetapi sebagai fenomena Historis yang berhubungan erat dengan seting sosial dalam artian ia meneliti keaslian sumber Hukum Islam melalui proses sejarah.

Salah satu komentarnya yang sangat kontra dan menggugat keimanan orang islam ialah pertanyaan bahwa rujukan hadits-hadits dari para sahabat Nabi merupakan prosedur yang lebih tua, dan teori tentang otoritas-otoritas hadits Nabi yang berkuasa ialah Inovasi. Untuk membuktikan gagasan ini ia menguji evolusi istilah sunnah sebagaimana telah dipakai pada masa Arab dalam tradisi lisan. Syafi’i sendiri berhasil membuat gagasan fleksibel sunnah sebagai kumpulan praktik yang telah diterima dalam Madzhab-madzhab awal yang disebut sebagai “Tradisi Hidup” Madzhab-madzhab[3].

Joseph melanjutkan merumuskan teori Yurisprudensi hukum Islam dengan empat sumber Hukum. Pertama, Al-qur’an yang dapat diterima penjelasannya. Kedua, Assunnah atau praktik Nabi yang dikisahkan Hadits Shahih. Namun kedua sumber ini belum seluruhnya dapat menjawab persoalan Masyarakat, oleh sebab itu perlu ditambahkan dua sumber Hukum yang lain. Diantaranya adalah Qiyas (Analogi), yaitu persoalan-persoalan yang tidak dapat ditemukan dalam praktik Nabi dan sahabatnya dapat diselesaikan dengan Analogi. Yang terakhir adalah Ijma’ atau consensus.

Joseph Schacht termasuk Orientalis yang cukup Produktif. Meskipun Ia dikenal dengan kecenderungannya dalam mengkaji dan mendalami fikih, Ia juga banyak menulis karya dalam bidang lain. Diantaranya ialah:

  1. Kajian mengenai Ilmu Kalam
  2. Tahqiq atas dasar manuskrip-manuskrip Kitab Fikih
  3. Kajian mengenai Fikih
  4. Kajian mengenai Sejarah, Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Islam
  5. Kajian-kajian keIslaman lainnya.

Menurut Abdurrahman Badawi, karya Joseph yang paling menonjol ialah karyanya dalam kajian Sejarah Fikih Islam. Karya utamanya dalam kajian ini ialah The Origins Of Muhammadan Jurisprudence dan yang lainnya ialah An Introduction to Islamic Law (pengantar Hukum Islam). Kedua karya ini berdominasi Fikih (Hukum Islam).

Dalam karya utamanya, Joseph berusaha mengembangkan teori kritik Hadits yang diproyeksikan untuk meruntuhkan Hukum Islam. Ia juga menyajikan hasil kajiannya dalam kajian Hukum Islam dengan mengkritik hadits-hadits yang berkaitan dengan Hukum. Ia juga berkesimpulan bahwa hadits-hadits Nabi mengenai hukum adalah palsu, sebab hadits hukum hanyalah buatan para ulama’ abad kedua dan ketiga Hijriyah.

Dalam bukunya yang berjudul Introduction to Islamic Law, Ia berkata bahwa Khulafaurrasidin tidak menunjuk Qadhi (hakim), akan tetapi pada pemerintahan Umayyah para gubernurnya mengambil langkah-langkah penting dalam mengangkat para Hakim Islam atau Qadhi. Kemudian tesis ini telah menggiring sebuah kesimpulan bahwa sebagian besar abad pertama hijriyah, Hukum Islam dalam pengertian teknis belum ada[4].

Kritiknya terhadap hadits-hadits Hukum Islam disebabkan oleh kelangkaan ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an, serta kebermulaan hukum islam mendapat hujan kritik yang cukup deras, baik dari orientalis maupun dari sarjana muslim[5].

  1. C.    Komentar Tokoh lain tentang Pemikiran Joseph Schacht

Prof. Dr. Musthafa Azami menambah pendapat Joseph tentang Hukum Islam dengan memaparkan beberapa hal, yaitu:

  1. Aktifitas Yudisial nabi Muhammad saw. Sebagai seorang utusan sekaligus penjelasan atas Al-Qur’an, menjelaskan mengenai perintah-perintah Allah dalam Al-Qur’an yang masih bersifat Universal. Hal ini merupakan sebuah data yang akurat dan mematahkan tesis kebermulaan hukum islam pasca abad pertama hijriyah.
  2. Catatan hukum dan keputusan yang didasarkan pada keputusan atau contoh Nabi Muhammad saw.
  3. Literature hukum abad pertama. Ada beberapa data yang menguatkan alasan literature hukum yang dicetuskan pada abad pertama hijriyah.
  4. Konfirmasi yang baik dari para sahabat[6].

Azami berpendapat bahwatidak ada keobjektifan Joseph dalam mengkaji fikih. Menurut Azami ia dengan sengaja membuat pengkaburan fikih dengan mengganti nomenklatur fikih dengan nomenklatur barat. Hal tersebut dapat ditinjau dari istilah yang  digunakan oleh Joseph dalam karyanya yang bertajuk Introduction of Islamic Law, dimana ia membagi fikih menjadi beberapa judul, orang, harta, kewajiban umum, dan lain sebagainya. Menurut Azami susunan tersebut senagja diperkenalkan oleh Joseph, sebab ia ingin mengubah hukum islam pada hukum romawi.

Dari berbagai keterangan diatas, Joseph berusaha mempengaruhi kita untuk mempercayai bahwa hukum berada di luar wilayah agama. Dia berkata:

Pada umumnya Muhammad hanya memiliki sedikit alasan untuk mengubah hukum adat yang sudah ada. Tujuannya selaku Nabi bukaunlah untuk membuat sistem hukum baru, tapi sekedar mengajarkan manusia bagaimana manusia bertindak, apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus dihindari agar dapat dengan selamat menghadapi perhitungan pada Hari Pembalasan dan agar masuk surga[7].

Dari beberapa penjelasan yang terdapat dalam fikih diatas dapat disimpulkan bahwa sejumlah orientalis khususnya Joseph Schacht meragukan keotentisan Hukum Islam sebagai sebuah disiplin Ilmu yang orisinil.

Joseph berpendapat bahwa kelompok aliran fikih klasik dan ahli hadits adalah pemalsu hadits, sebab sebagaimana yang dikutip oleh Mustafa Yaqub, Joseph mengatakan “we shall not meet any legal tradition from the prophet which can be considered authentic (kita tidak akan dapat menemukan satupun hadits nabi yang berkaitan dengan hukum yang dapat dipertimbangkan sebagai hadits shahih)”. Dan untuk membantah teori yang dikemukakan oleh para orientalis, khususnya Joseph yang telah meneliti aspek sejarah, M Azami membantah teori Joseph, khususnya mengenai Hadits. Azami melakukan penelitian Khusus mengenai hadits nabi yang terdapat dalam naskah klasik, diantaranya ialah naskah milik Suhail bin Abi Shaleh (w/138 H). Beliau ialah murid Abu Hurairah sahabat nabi Muhammad saw.

 

  1. IV.             KESIMPULAN

Joseph Schacht merupakan seoarang sejarahwan Hukum yang banyak memberikan manfaat ilmu pengetahuan, baik tentang perkembangan sejarah Hukum Islam atau tentang sunnah Nabi. Karya-karyanya berdominasi Fikih (Hukum Islam), karya utamanya yaitu The Origins Of Muhammadan Jurisprudence dan An Introduction to Islamic Law.

Proyek kritiknya terhadap Hukum Islam telah meragukan peran penting dari kontribusi Al-Qur’an terhadap perkembangan Hukum Islam. Bahkan Ia secara khusus berpendapat bahwa Al-Qur’an pada esensinya hanya berisikan hal-hal yang bersifat etis dan hanya sedikit yang bersifat hukum. Ia juga mengingkari adanya peran penting al-Qur’an terhadap perkembangan Hukum Islam yang penting.

DAFTAR PUSTAKA

Azami,  Menguji Keaslian Hadits-Hadits Hukum, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004.

Hanafi, Oksidentalis, Jakarta: Paramadina, 1999.

Irwandi, Dekonstruksi Pemikiran Islam, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Press,2003.

Rasyid, Daud, Islam dalam berbagai Dimensi, Jakarta: Gema Insani Press, 1998.

http://hankkuang.wordpress.com/2009/11/08/345/.

 

http.www.kotobarabia.com.


[2] http.www.kotobarabia.com

[3] Irwandi, Dekonstruksi Pemikiran Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Press,2003), h. 7-8.

[4] Hanafi, Oksidentalis, (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 34.

[5] Daud Rasyid, Islam dalam berbagai Dimensi, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 33.

[6] Azami,  Menguji Keaslian Hadits-Hadits Hukum, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004), h. 24.

[7] Azami, Op. Cit., h. 18-19.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s